Depok - Indonesia, Saat mendengar kata “jam malam untuk pelajar”
, mungkin sebagian dari kita langsung merasa heran, risih, atau bahkan marah.
Kesan pertama yang muncul bisa jadi “kok anak sekolah makin dikekang?” atau
“kenapa pemerintah ikut campur urusan rumah tangga?” Namun, sebelum terjebak
pada prasangka, mari kita luangkan waktu sejenak untuk mencoba berpikir
positif . Sebab sering kali, dalam kebijakan yang terkesan kontroversial,
tersimpan niat baik yang layak untuk dipahami.
Melansir dari Detik
Jabar ,
Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru-baru ini mengeluarkan Surat Edaran
Gubernur No. 51/PA.03/DISDIK tentang penerapan jam malam untuk pelajar.
Intinya, pelajar diminta untuk tidak berkegiatan di luar rumah pada pukul 21.00
sampai 04.00 WIB. Alasannya sederhana: menjaga agar pelajar tidak terlibat
aktivitas negatif di malam hari serta menciptakan lingkungan yang lebih
kondusif untuk pembentukan karakter anak.
Namun, kebijakan ini tidak serta merta diterima dengan
tangan terbuka. Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat menyatakan
keberatannya, dengan menyebut bahwa kontrol terhadap anak seyogianya merupakan
ranah keluarga, bukan pemerintah. Wajar jika terjadi karena mencakup ruang
gerak dan hak remaja yang mulai tumbuh dewasa. Tapi dalam pusaran pro dan
kontra itu, berpikir positif bisa menjadi jembatan yang tenang .
Menurut psikolog klinis Adelia Yustisia
(Kompas Kesehatan), berpikir positif bukan berarti mengabaikan realita atau
menutupi emosi negatif, melainkan berusaha menemukan hal baik dan makna positif
dalam setiap situasi. Dalam konteks ini, bisa jadi pemerintah tidak bermaksud
mengekang, tapi justru ingin menciptakan batas yang sehat untuk anak-anak
kita—yang mungkin masih butuh arahan, tapi belum tahu bagaimana cara meminta
bimbingan.
Dari sisi kesehatan mental, pola pikir positif juga
punya banyak manfaat. Penelitian dari Harvard TH Chan School of Public
Health menyebutkan bahwa individu dengan pola pikir positif memiliki
tingkat stres lebih rendah, risiko depresi yang menurun, dan kualitas tidur
yang lebih baik. Bayangkan jika anak-anak kita bisa tumbuh dalam lingkungan
yang lebih teratur dan meminimalkan gangguan larut malam—bukankah itu bisa
memperbaiki kualitas hidup mereka dalam jangka panjang?
Tentu saja ini tidak berarti kita harus menerima
semua kebijakan tanpa kritik. Justru dalam berpikir positif, kritik yang
membangun tetap penting. Misalnya, bagaimana dengan pelajar yang ikut kegiatan
komunitas, organisasi, atau lomba hingga malam hari? Apakah mereka akan kena
sanksi? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus dijawab bersama, lewat dialog
terbuka antara pihak sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Solusinya bukan menolak sepihak, melainkan
menciptakan kebijakan yang lebih lentur dan manusiawi . Mungkin bisa
dibuat surat izin khusus untuk kegiatan terstruktur pada malam hari, atau
pelibatan RT/RW untuk pengawasan berbasis komunitas. Pendekatan ini lebih
sehat, karena dihapus dari empati dan kolaborasi, bukan hanya dari larangan
kaku.
Berpikir positif adalah keterampilan yang penting
di dunia tengah yang cepat menghakimi. Daripada langsung mengutuk kebijakan
yang belum tentu kita pahami sepenuhnya, lebih baik kita buka ruang untuk
memikirkan dan melihat sisi baiknya. Apalagi jika membahas masa depan generasi
muda—tak ada salahnya sedikit lebih tenang, lebih terbuka, dan lebih percaya
bahwa niat baik tetap ada, meski terkadang datang dalam bentuk yang tak
sempurna.